Tegar

Ia menarik nafasnya dalam dalam..

Natal datang lagi bisiknya dalam hati. Ditatapnya langit, tak ditemukan TUHAN nya disana tentu.Betapa dia merindukan pelukan.  Pelukan orang tuanya..dan..hey..sekali didapatinya lagi perasaan itu..kosong.  Orang tua yang mana pikirnya.

Begitu banyak panggilan mama dia berikan kepada setiap ibu yang begitu baik padanya, dan papa pada semua bapak yang begitu memperhatikannya.  Tapi ada satu sisi dalam hatinya yang tak terisi. Kerinduannya pada ibunya sendiri, ayahnya sendiri.

Dibuangnya perasaan itu jauh jauh, tapi air matanya mendahuluinya. Kenapa perasaan itu tiba tiba membuatnya begitu terjatuh ? Dicobanya untuk tetap berdiri dan akhirnya dia tertunduk…aku kalah pikirnya. Ditatapnya langit sekali lagi mencari gambaranNYA.  Ada suara setengah berbisik ditelinganya, kau kalahkan ini bepuluh tahun..kau serahkan semua saat ini ?  Air matanya deras..tidak jawabnya.

Biarkan ku lunglai sesaat, biarkan air mataku deras mengalir membanjiriku…tapi tidak..aku akan berdiri lagi dan berlari kedepan membawanya semua. Semua. Untuk kutumpahkan pada anak anak ku, sehingga mereka bisa merasakan kasih yang pernah menjadi mimpiku..

Dihapusnya semua air matanya..dan dia kembali berlalu dalam hari harinya..

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 326 other followers