setumpuk cerita untuk sahabat

September 15, 2008

satu..dua..tiga kata yang terkadang susah untuk dikeluarkan…

saat bicara bukan menjadi suatu solusi yang diambil..

dan tulisan sering mampu membuat kita terlepas sejenak…

untuk kemudian kembali melangkah

menjalani semua perjalanan dan keseharian

sedih

February 11, 2009

Hari berjalan seperti biasa,

senyumnya pun tetap seperti biasa, baginya hidup ini memang harus dia lalui hari perhari dengan senyumnya. Perannya memang mengharuskannya begitu, bisikknya dalam dalam. Tak ingin dilihatnya gadis kesayangannya ikut sedih atau bingung melihat gurat kemurungannya nanti.

Dipelukya gadisnya dalam dalam,

hanya ia yang mengerti apa yang dia rasakan, tapi baginya senyum gadisnya membuatnya tenang. Sangat besar artimu untukku sayang…bisikknya dalam hati…

Sedih..

Itu saja yang ia rasakan saat ini..

perjalanan ini seperti tak berujung. Walaupun jangan kau ambil aku BAPA sebelum kubahagiakan gadis kecilku, tapi seringkali kelelahan itu berkata lain.

Sebuah kecupan mendarat di pipinya, dipandanginya senyum gadisnya itu…hmm…besar sekali semangat yang kau alirkan barusan sayang.

Dipeluknya sekali lagi…

Tak dibiarkannya dirinya larut dalam perasaan sedihnya…

Ia kembali melangkah melalui hari harinya..masih dengan senyum yang sama.

DIAM

December 14, 2008

hh..

Disadarinya dirinya tak berkata kata sejak tadi. Dia hanya diam dan sesekali tersenyum. Dipandanginya satu satu..anaknya..suaminya…hm..mereka adalah hidupku gumamnya dalam hati.

Mereka sedang tertawa tawa dan bersenda gurau. Entah kenapa, tak ada sedikitpun hasratnya untuk menimpali sekali kali apa yang mereka bicarakan. Tidak. Dia hanya ingin diam.

Sampai tanpa disadarinya mereka berbalik menatapnya. Bersamaan. Menggurat sedikit heran dalam wajah mereka, suaminyapun bertanya seraya mengelusnya..ada apa sayang..kau sangat diam malam ini? aku hanya menonton kalia..tidak ada apa apa jawabnya sambil menggeleng.

hhh…..ia menghela nafas seraya beranjak menjauh..

akankah kalian meninggalkanku suatu masa nanti ?

…diam…

jeda sesaat

November 23, 2008

Ia duduk menatap jauh keluar jendela.

Sekilas rindu itu singgah di hatinya…apa yang sedang ia lakukan disana pikirnya….

Lelaki itu pernah tinggal di hatinya untuk waktu yang cukup lama, dan akhirnya meninggalkannya dengan hati yang sangat terluka. Tapi ia sudah memaafkannya sekalipun hal itu tak pernah terucap dari mulut laki laki itu. Hatinya tetap menangis saat didapatinya dirinya jauh lebih bahagia daripada lelaki itu. Tapi tak mungkin ia raih kembali laki laki itu, karena itu sudah jauh jauh dia tinggalkan.

Saat ini seperti sering terjadi pikirannya melayang kembali pada sosok yang tak pernah bisa ia lupakan itu, sambil tak jarang ia ucapkan doa agar DIA tetap menjaganya sekalipun lelaki itu sering menundingnya sebagai penyebab dari kehidupannya yang tak bertujuan meskipun perpisahan itu sudah terjadi sewindu lalu. Tak jarang ia memohon padaNYA dengan setitik airmata, agar dibukakan jalan bagi lelaki itu agar dapat meraih apa yang diinginkannya….hh. Ia kembali mengeluh dalam hatinya…

Diraihnya telepon genggamnya,perlahan ditulisnya pesan singkat yang akan dia kirimkan pada sosok yang memenuhi pikirannya,kali ini ia berjanji akan mengirimkannya dan bukan menghapusnya.

Dengan senyum tipis, ia simpan kembali perangkat canggih itu yang bisa mengirimkan pesan hatinya, sambil juga berharap bisa menyampaikan kasihnya yang memang tidak pernah akan bisa hilang..

anugerah

October 21, 2008

Gadis itu menatapnya diam diam sejak tadi. Bukan ia tak tau bahwa ia sedang diselidiki habis habisan olehnya. Matanya tak lepas dari semua yang ia lakukan. apa yang ia katakan bahkan apa yang ia kenakan. Hmmm…gadis ini mungkin sedang menilai, apakah ia pantas menjadi pendamping ayahnya kelak.

Hatinya tersenyum, karena gadis itu terus bercerita tanpa henti dan senyumnya pun tak hilang tanda tak hilang semangatnuya selepas pertemuannya ini.

Diam diam menitik air matanya, semua begitu mudah berlalu bisiknya. Apa yang KAU lakukan padanya Tuhanku, sehingga ia dengan mudah membalikkan semua keennganannya padaku menjadi senyum yang tak habis…hhh..semua seolah menjawab doanya selama ini. Dia dan ayah si gadis yang akan menjadi suaminya kelak.

“apa yang harus kulakukan dik? Dia begitu memperhatikanmu kini?” bisik lelaki itu bimbang padanya. “Tuhan bekerja untuk kita sayang, kita harus memeliharanya, itu saja” balasnya sambil tersenyum,seperti mimpi. Diapun tak pasti apa yang harus selanjutnya dia lakukan selain itu. Satu hal yang ia tau bahwa ia harus tetap membiarkan TUHANnya bekerja untuknya.

Digenggamnya tangan lelaki itu. Ia pandangi wajah kekasihnya dengan penuh kasih, begitu dalam hingga ia sendiri tak mampu menahan getarnya, dinikmatinya dalam dalam anugerah ini. Ia takut terbangun dan semua ini hanya mimpi belaka. Tpi dia tetap tersenyum, dan ini adalah anugerah yang dihadiahkan untuk nya. Lagi lagi digenggemnya tangan kekasihnya, menyatukan jemarinya, mengucapkan doa syukurnya atas anugerah ini..

Senyum

October 8, 2008

Untuknya sebetulnya semua ini seperti mimpi, melihat adik adiknya dan ibunya bisa berkumpul bersamanya disini. Hhh…Tuhan bekerja dengan caraNya yang hebat dan luar biasa..gumamnya dalam hati. Seulas senyum menghiasi bibirnya sampai ia akhirnya harus pulang ke rumah. Tak dapat diceritakannya kembali pada sang suami tentang bahagia yang ia bawa malam ini, hanya senyum lagi lagi yang tertangkap di wajahnya yang sudah mulai lelah.

Sebelum tertidur ia tetap berdoa seperti yang biasa ia lakukan, Tuhan..terima kasih untuk semua yang sudah Engkau jadikan untukku..bisikknya dipenghujung doanya. Sekian tahun dalam hidupku aku menunggu ini semua, dan aku dapat melihat ini semua terjadi. Tak diingatnya lagi kemarahannya di masa lampau saat ia berteriak tak puas..karena Tuhan tak mengabulkan permintaannya..saat Tuhan tak memberikannya ibu seperti anak anak yang lainnya..saat Tuhan tak memberikan keluarga seperti anak anak yang lain.

Ia tertidur, dengan senyum yang masih menhiasi bibirnya..

Lepas

September 23, 2008

kepompong…

keluar dari kepompong…

itu perasaan yang paling tepat yang dia rasakan saat ini, setelah ia membuka mata dari doa paginya pagi itu. air matnya yang terurai lebih tepat karena ia merasa bersyukur atas rasa lepasnya yang ia rasakan.

bertahun dia menyimpan rasa itu. rasa marah yang tak jelas untuk siapa. rasa kecewa yang lagi lagi tak tahu akan ditujukan kemana. ibu..ayah..adik adik atau keluarganya…? tak satupun..karena ia sangat tau hal itu tak bisa ia lakukan karena cintanya yang begitu dalam untuk mereka. bahkan pada saat mereka semua menolaknya, ia tetap berusaha mencintainya. ia katakan pada anak tunggalnya, mereka harus mencintai orang orang itu lebih dan lebih setiap harinya, karena Tuhan inginkan begitu. padahal mungkin hanya karena ia tak akan tahan bila harus kehilangan lagi cintanya, tapi ia lakukan itu semua dengan tujuan yang ia sendiri tak pernah tau.

hingga satu saat ia bertanya, kenapa Tuhan, ada apa denganku? mereka begitu tak menginginkan aku. mereka begitu tak ingin mengakuiku. apa yang salah Tuhan? padahal aku begitu mencintai mereka. aku sering menangis hanya karena menginginkan pelukan ibu yang tak pernah kurasaka, atau tepuk bangga seorang ayah untuk cinta yang kupunya untuk keluargaku….kenapa Tuhan..

bertahun ia simpan semua rasa…

bertahun ia simpan luka itu…

hingga doanya dijawab dengan jawaban ajaib yang hanya dapat dimengerti olehnya saja. dan betapa ia mengerti, Tuhannya mencoba menghiburnya terus dengan berkatNya yang melimpahinya terus..terus..dan terus hingga tadi pagi, saat ia membuka matanya dan menyadarinya bahwa lukanya sudah hilang…kecewanya pun berubah menjadi senyum bangga, karena keluarganya adalah keluarga yang terbaik yang sudah Tuhan berikan untuknya.

tawanya sangat lepas, hingga tak satupun mahluk menyadari betapa hatinya pernah menyimpan luka yang sanagt besar dan beban yang sangat berat. tapi semua lepas begitu saja, dan ia menutup matanya kembali dan berdoa pada Tuhannya, agar Ia terus menjagai ibu,ayah dan adik adiknya hingga waktu bisa membukakan mata mereka.

hmm….

kepompong itu membuatnya tersenyum lagi..

ia betul betul merasa lepas dari kapompong lukanya…

Bergegas

September 16, 2008

Selamat pagi…

Semburat senyum mengawali hari

Trimakasih Tuhan untuk nikmat hari ini yang sudah Kau sediakan

Bergegas bersiap untuk menggali sawahMu

terucap doa kecil untuk kekasih yang mungkin masih tertidur disana,

aku harus pergi kasihku, tapi aku percaya…DIA pasti menjagamu pula hari ini

Selamat pagi…

ucap mentari pada dunia…

hari yang biasa…

September 15, 2008

Pagi ini dia datang memeluknya dan berbisik lirih..’love you’ dan seperti biasa ucapan serupa membalasnya lirih dengan semu di pipi. Lima tahun perjalanan mereka tak mampu menghilangkan semu itu setiap kali kata itu terucap.

Bergegas disiapkannya secangkir kopi dan tak sabar diletakkannya di meja tempat mereka menghabiskan pagi bersama setipa paginya. Menatap kosong ke arah pemandangan di muka jendela sambil sesekali kecupan menghinggapi kening mereka. Rasanya ingin seluruh hidupnya dihabiskan untuk itu, sampai waktu harus memisahkan mereka.

Pesan pendak mengganggu ritual mereka pagi ini, sang lelaki tak mungkin menemaninya malam ini karena dia harus menemani anak anaknya yang malam ini tak ditunggui ibu mereka. Bukan kali pertama. Hmm…rasa itu kembali menghinggapinya..sepi..sekalipun dia belum pergi. Tapi ia tetap tersenyum manis..sangat manis bahkan..mencoba untuk menghibur dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa dia tetap akan pulang untuknya.

Pelukan perpisahan pagi ini membuatnya enggan untuk pulang. Terkadang tak dapat dibayangkannya bila ia tak bisa bersamanya semalam saja..bayangan saat dia ditinggalkan seperti menari nari dibenaknya, meskipun janji untuk menjaganya selalu diucapkan.

Tapi ia tetap berdiri tegak. Dia harus tegak, dan dia berbisik pada Penciptanya..aku inginkan KAU menjaganya untukku…karena dia berjanji pulang untukku..